Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juli 2014

Tentang Rasa


Aku tak pernah mengerti kemanakah hidup akan membawaku, aku tidak pernah tahu mengapa sayatan-sayatan tipis yang tersusun dari kata-kata dapat merobek hatiku, atau mengapa sebuah kalimat dapat bermakna berbeda ketika pengucapan, tekanan serta intonansi yang berbeda pula, padahal deretan kalimat itu sama. Mengapa hidup ini begitu menyesakan ? mengapa aku tidak bisa mengecap kata nikmat dalam menjalani hidup ini. Apa karena imanku yang begitu lemah ? atau karena kurangnya pemahamanku mengenai kehidupan ini ? tapi mengapa begitu menyesakan.
                Masih pantaskah aku menerima kasih sayang-Nya ? sungguh tidak sama sekali, yang aku khawatirkan hanyalah satu, mengapa dunia ini begitu jahatnya padaku ? ah, bukan, ini bukan salah dunia ini, dunia berputar seperti biasa mengikuti hukum waktu, baiklah siapa yang kejam terhadapku ? waktukah ? si sombong itu hanya berjalan tanpa henti, bisakah ia mengerti perasaanku, bisakah ia menghentikannya sebentar saja, hanya sebentar saja, hatiku sakit sekali, mengapa ia terus berjalan, semakin mempercepat proses membusuknya hatiku ini.
                Aku selalu menyesali apa yang telah terjadi padaku, selalu, meskipun penyesalan itu tidak berarti apa-apa. Menyesali mengapa terlahir di keluarga yang miskin ini, mengapa aku mempunyai ayah yang menyebalkan, mengapa aku begitu tolol dalam bidang berhitung, dan mengapa aku selalu kalah dalam cinta. Aku membenci apapun yang membuatku lemah, rapu dan tidak berdaya. Mengertikah kau betapa posisi orang jahat itu sangat sulit, kau kira hanya orang baik yang dapat merasakan kepedihan ini ? sama saja, aku yang berperan  sebagai orang jahat saja, sangat tersiksa, kau pikir aku bahagia menikmati penderitaan orang lain ketika aku berhasil melakukan aksi kejahatanku ? ah tidak kawan, itu hanya sesaat, rasa senang itu hanya sesaat saja.
                Aku bahkan, tidak mengenal kata bahagia. Orang jahat sepertiku ini hanya mengejar rasa kepuasaan yang tak pernah padam dan berakhir.

Surat Untuk Ina


Kepada
Sahabat terbaik sepanjang masa
Innayatul Fauziah

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
                Senja tak lagi menyiratkan keindahan, senja tak lagi mempesona, Ina yang baik, mengapa senja tiba-tiba saja buram, warna jingganya tak lagi membuatku terharu, akan tetapi jingga itu membuat mataku pedih dan berair. Ina yang baik, kita tidak pernah tahu tuhan merencanakan apa sedetik, semenit, sejam bahkan sehari yang akan datang untuk kita Ina. Pernah terpikir olehku, bahwa hidup ini hanyalah lembaran hari-hari yang biasa saja, dan lebih banyak membosankan untuku.
                Senyumu yang terkesan ramah, menyapaku, ketika pertama kalinya kita memasuki kelas matrikulasi bagi anak-anak IPB yang lulus undangan. Kau dengan gaya kepemimpinanmu menyapa setiap orang yang hadir di kelas. Kau, dengan gagahnya memimpin pemilihan komti kelas, dengan mengajukan namaku dan nama beberapa teman lainya. Ina yang baik, aku masih ingat ketika kita bersama-sama berangkat kuliah, meskipun jarak gedung ccr dan asrama tidaklah jauh, tetapi kebersamaan yang kita bangun bertiga bersama jojo, membuatku bahagia. Awalnya aku tidak terlalu menyukaimu, tetapi lama-kelamaan aku memahami sikapmu yang sebenarnya, dengan begitu aku menerimamu sebagai temanku. Ina yang baik, apakah kebersamaan kita begitu singkat ? seperti cahaya rembulan yang selalu meredup seiring bergantinya hari, hingga akhirnya benar-benar padam.
                Ina yang baik, kita dipertemukan dalam kelompok responsi agama, ketika hari pertama responsi aku melihatmu menangis, menangisi keadaanmu dan keluargamu serta perjuanganmu untuk kuliah di kampus rakyat ini, kau berhasil mengalahkan orang lain, dan kau pun berhasil menyakinkan orang tuamu untuk melepaskanmu menuntut ilmu menuju kampus hijau dan asri ini. Ina bukankah kau sudah bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuamu ? kau selalu berkata seperti itu, aku tidak terlalu mengetahui apa sebenarnya angan-anganmu, yang jelas kau adalah anak yang baik, dan berbakti kepada orang tua.
                Kita memang terpisahkan oleh jarak, yang entah mengapa membuatku merasa jauh darimu, pendapat itu bahkan muncul dari beberapa kawan lain yang mengakatakan hal serupa. Ina yang baik, kadang kita tidak dapat mengontrol sikap kita terhadap orang lain, hal itupun pernah aku rasakan, sungguh, aku pernah merasakanya dulu ketika SMP atau SMA, aku sudah lupa. Hanya saja ketika itu, akupun dikuasai oleh sikap yang membutakan aku terhadap opini orang lain tentang kita, sehingga kita mengabaikanya begitu saja, tapi percayalah Ina, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjauhimu, aku sama sekali tidak bermaksud menjahatimu, bersikap cuek dan acuh-tak acuh terhadapmu, maafkalah atas sikap konyolku ini.
                Alasan sebenarnya karena aku juga pernah merasakan hal yang sama denganmu, aku berharap kau berubah, agar di departemen kelak, kau akan mempunyai kawan yang lebih banyak dibandingkan di kelas TPB ini, aku rasa kawan yang lainpuun berpikiran sama Ina, tidak ada yang merasa apapun kepadamu, ini semua hanyalah bentuk kasih sayng kami yang kami interpretasikan dengan cara kami masing-masing terhadapmu Ina.
                Ina yang baik, kesibukan dan keorganisasian membuat kita kadang lupa akan waktu dan tubuh kita sendiri, terkadang kita tidak makan, bahkan lupa untuk sejenak beristirahat memejamkan mata dan tubuh kita yang lelah, yang teah bekerja keras seharian ini, demi tercapainya hasil yang maksimal. Ina sayang, hal itu terjadi pula kepadamu, tetapi mengapa kau begitu melupakan akan tubuhmu sendiri, aku bukanlah teman yang baik Ina, maafkanlah karena aku tidak dapat memberitahumu akan hal ini, maafkanlah kesalahanku Ina.
                Waktu, tak perna ada yang tahu akan seperti apa kita sedetik berikutnya, seperti halnya aku menuliskan surat ini. kita baru akan menyesali perbuatan kita setelah kita melakukanya, kita juga akan merasa kesepian setelah kita merasa kehilangan. Ina sayang, mengapa penyesalan selalu datang terlambat, mengapa dari awal kita tidak merencanakanya akan seperti apa  kelak ketika kita melakukan hal ini ataupun hal itu ? bukankah pengalaman adalah guru terbaik ? bahkan agamapun mengajarkan akan hal ini. banyak sekali literature dan sejarah mengenai pengalaman. Tetapi mengapa sebagai manusia kita baru menyadarinya setelah kita merasakan sendiri akibatnya.
                Ina sayang, jikalau memang ada mesin waktu, ingin sekali aku mempergunakanya untuk mengatakan bahwa aku sangat menyesal atas sikapku selama ini kepadamu, mohon maafkanlah aku yang dengan bodohnya selalu berdikap tidak baik kepadamu. Maafkan aku Ina sayang. Dimanapun kau berada, aku berharap kebahagiaan dan rahmat Alloh akan selalu menyertaimu Ina. Kau akan ditempatkan di tempat yang baik di sisi-Nya. Ina percayalah padaku, kami semua menyayangimu, kami semua mendoakan yang terbaik padamu Ina sayang, semoga kau bahagia di sana.
                Kini, tak ada yang dapat memutar waktu, bahkan sedetik yang telah berlalu saja kita tidak bisa memutarnya. Ina yang baik, hidup ini memang singkat, tetapi sesingkat apapun itu, ini hanyalah persinggahan, karena yang sesungguhnya adalah hidup yang kekal di akhirat. Ina sayang, berjuta-juta maaf rasanya tidak akan pernah cukup untukku, berjuta-juta penyesalan tak akan pernah menutupi kesalahanku meskipun hanya sebesar biji jarah. Dan pada akhirnya, yang dapat aku kirimkan padamu hanyalah doa, doa yang semoga saja dapat meringankan bebanmu, dapat menempatkanmu di sisi-Nya, di tempat terbaik, dan terindah bersama orang-orang mukmin lainya.
                Ina sayang, akibat kelalaian dan kesibukan dalam memperhatikan tubuh, kau lupa sayang, kau lupa bahwa kesehatan sangatlah penting, dan nyamuk itu menggigitmu ketika kondisi badanmu lemah. Mengapa terlambat, apakah ini rencana Alloh yang diperuntukan-Nya padamu Ina. Sampai akhirnya aku menghembusakan napas terakhirmu jam Sembilan malam tadi. Secepat itukah, setahun bersamamu, bukanlah waktu yang lama, singkat sekali, tetapi apa mau dikata, takdir telah menentukan kapan kita hidup dan kapan pula kita kembali. selamat jalan, selamat jalan Ina sayang, semoga kau tenang di sana, di tempat terbaik yang sudah Alloh persiapkan padamu Ina sayang. Selamat jalan…..
Bogor  17 Juli 2014
Dea Ajeng Pratiwi

Untuk Prabowo


Kepada YTH
Bapak Prabowo Subianto
Di Tempat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
                Salam sejahtera bagi kita semua. Bapak Prabowo, apa kabar ? saya berharap bapak dalam keadaan baik-baik saja. Bapak, setelah proses panjang perjuangan bapak dan rekan-rekan bapak dalam pilpres tahun 2014 ini, hari ini, adalah penentuan dimana kita akan mengetahui siapa presiden pengganti pak Susilo yang akan melanjutkan perjuangan Negara ini yang tidak akan pernah berakhir. Perkenalkan pak, saya adalah mahasiswi dari Institut Pertanian Bogor, pendukung bapak. Setelah pagi tadi kita sama-sama mencoblos capres dan cawapres pilihan kita, tengah hari banyak sekali media yang menyiarkan hasil hitung cepat, yang menurut saya agak ganjil. Entah mengapa ini terlihat seperti, banyak sekali rintangan dan musuh yang menghadang bapak untuk menduduki kursi No 1 di Indonesia pak.
                Meskipun, kita tidak boleh mempercayai langsung hasil hitungan cepat tersebut, karena belum tentu metode yang digunakan lembaga-lembaga survei tersebut sesuai dengan hitungan yang sebenarnya dilapangan yang dilakukan oleh KPU. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat saya bingung, lembaga-lembaga yang menyatakan bahwa hitungan mereka akurat, tetap berbeda. Beberapa diantaranya lebih mengunggulkan pasangan jokowi, tetapi tak sedikit pula yang menunjukan bahwa anda unggul. Entah ini masih ada hubunganya dengan pro kepada salah satu pihak ataupun tidak, saya juga tidak mengerti, tetapi saya juga tidak mau seudzon terhadap pasangan lain pak.
                Pak prabowo yang baik, saya sempat melihat cuplikan di sebuah televisi, mengenai almarhum Pak Gusdur, yang mengatakan bahwa orang yang paling ikhlas bagi Indonesia adalah Prabowo. Seketika itupun saya merasa terharu pak, entah mengapa saya merasa bahwa, semenjak pertama kali kolalisi merah putih yang mengusung bapak dan pak Hatta menjadi capres dan cawapres, semakin terlihat bahwa Negara kita dan kebebasan pers yang sangat ganjil, mereka memaki, mencerca, dan menyumpahi bapak, bahwa bapak adalah pelanggar HAM, dalam kasus penculikan di tahun 1998, ketika reformasi. Bahkan surat pemberhentian bapakpun tersebar luas di media sosial. Ditambah bahwa Negara ini akan kembali pada jaman orde baru, dimana pemimpin hanya akan menjadi otoriter. Belum lagi, persoalan lainya. Saya tidak mengerti pak, mengapa ini semua terjadi ketika bapak mencalonkan presiden, sedang ketika tahun 2009 tidak ada media yang membahas mengenai ini semua sampai-sampai dituntas ke akarnya.
                Pak Prabowo yang baik, dalam pemilihan kali ini yang menang maupun yang kalah sama saja, yang menang bukan berarti dia yang terbaik, karena kita belum tahu mengenai totalitas yang akan dia berikan pada bangsa ini sesuai dengan janjinya. Sedangkan, yang kalah bukan berarti dia buruk, karena saat ini, Alloh belum member kesempatan. Saya berharap anda menjadi presiden untuk Negara Indonesia dan dapat mewujudkan semua janji-janji yang telah anda paparakan dalam setiap kampanye bahkan dalam debat. Tapi pak, kalaupun anda kalah, saya yakin anda adalah orang yang paling ikhlas bagi Indonesia, seperti yang dikatakan oleh almarhum pak Gusdur, kecintaan anda pada Negara ini akan tetap terpatri dalam benak saya. Tidak perduli mengenai masa lalu anda, tetapi saya yakin, semua orang yang menuduh bapak mengenai isu-isu yang selama ini beredar, mereka sebenarnya tidak mengetahui isi hati bapak, dan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu pak dari sudurt pandang bapak. Saya percaya bahwa bapak adalah orang yang sangat nasionalis, dan patriotis pak.
                Menang atau kalah pak, bagi saya bapak adalah pemenangnya, dengan kebesaran hati bapak dan menerima semua kejahatan yang mereka berikan. Kebaikan yang sesungguhnya adalah dia yang berbuat baik kepada orang yang dianggap jahat, itu adalah sepenggal kata yang Khalil Gibran katakana pak. Perjuangan bapak sebagai orang baik, tidak hanya melalui presiden pak, apalah arti presiden apabila ia tidak dapat menjadi amanah, tidak dapat memenuhi semua janjinya, bagi saya seseorang yang dekat dengan hati rakyat adalah seorang raja yang tidak mempunyai singgasana dan seseorang miskin yang tidak tahu caranya mengemis pak. apapun itu pak, perjuangan yang bapak lakukan selama ini tidak akan sia-sia, mungkin rakyat kita belum terlalu paham, dan mereka masih terbawa dengan mudah oleh isu-isu atau bahkan mereka belum mempunya filter yang baik, maka dari itu pentingnya pendidikan bagi bangsa ini, jangankan menilai bapak melalui isi berita, banyak sekali sodara-sodara kita yang tidak tahu mengenai profil capres, bahkan tidak mengerti bagaimana caranya memilih calon presiden di TPS di daerah timur sana pak.
                Pak prabowo yang baik, saya berharap kecintaan bapak akan Negara Indonesia semakin bertambah setelah pilpres ini. saya yakin bapak dapat merubah bangsa ini kearah yang lebih baik dengan cara bapak sendiri. Bagi rakyat miskin yang berada di pelosok-pelosok negeri yang tertinggal pendidikanya, siapapun presidenya tidak akan merubah banyak pada kehidupan mereka, inilah yang seharusnya di rubah, anggapan-anggapan rakyat kecil dengan pembuktian pak, karena hanya dengan pembuktian, mereka akan mempercayainya. hanya itu yang dapat saya sampaikan, saya memohon maaf apabila terdapat kata-kata yang tidak berkenan di hati bapak, saya tidak bermaksud menggurui, apalah arti sepenggal kalimat dari seorang mahasiswi yang belum berpengalaman dalam hidup, di banding bapak yang lebih hebat dalam berbagai pengalaman. bagi saya bapak adalaha pemimpin yang sesungguhnya. Tetap semangat pak, dan teruskanlah perjuangan bapak, apapun itu demi kesejahteraan bangsa ini, saya akan mendukungnya.

Bogor 09 Juli 2014

Dea Ajeng Pratiwi
Institut Pertanian Bogor


               

Minggu, 06 Juli 2014

Pembunuh


“Katakan, apa motif sodari membunuh ayah kandung sodari ?” Tanya petugas kepolisian kepadaku dengan nada yang ditekan, membosankan. “sodari tidak mendengar ?” ulangnya dengan nada yang lebih tinggi. Aku menatapnya dengan perasaan muak, “itu takdir pak,” gumanku seraya menundukan kepala. “sodari jangan main-main dengan hukum, jika sodari tidak mengatakan dengan benar sodari akan dikenakan hukuman berlapis. Cepat katakan !!!” jerit petugas kepolisian itu, matanya garang, seakan mau keluar, sedangkan kumisnya yang lebat menutupi sebagian bibir atasnya, membuatnya semakin buruk dimataku. “Ya, itu adalah cita-cita terbesar dalam hidup saya pak, apa tidak boleh jika saya mempunyai cita-cita yang seperti itu pak ?” ungkapku dengan nada yang sesantai mungkin, malas sekali meladeni bentakan-bentakan dari petugas introgasi itu, semuanya sangat memuakan. Sekilas kulihat ekspresi petugas itu, saat ini matanya sudah keluar kukira. Kemudia pukulan hebat mendarat di meja coklat nan reot itu, melampiaskan amarah yang tak mungkin dilakukan kepada seorang tersangka wanita sepertiku.
***
Ya, akulah seorang pembunuh, mengerikan memang, tetapi bagiku tidak terlalu buruk, bukankah sudah banyak kasus-kasus pembunuhan, anak membunuh orang tuanya, orang tuanya membuhuh anaknya, oh ayolah, ini hal yang biasa di jaman serba canggih dengan teknologi dan lalala. Dan aku, hanyalah salah satu dari sekian juta orang yang terjerumus dalam kasus yang sama. Tunggu dulu, walaupun ini adalah hal yang biasa dalam kamus hidupku, akan tetapi aku mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukan tindakan yang paling durkaha ini. Terserah kau mau mmengatakan istilah yang lebih buruk dari pada durhaka aku tidak perduli, yang jelas impianku sudah tercapai. Apa kau mengira aku ini gila ? saiko ? psikopat ? hahaha yang benar saja, aku hanyalah wanita biasa, yang menginginkan kehidupan yang tenang. Hanya saja aku terlahir dalam keluarga yang takan pernah bisa tenang barang sedikitpun.
Aku tidak pernah menyesali terlahir dalam keluarga yang miskin harta, tentu saja tidak, malah aku bersyukur, bukankah orang-orang sukses itu yang telah mengisprirasi banyak orang itu terlahir dari golongan keluarga yang tidak mampu ? bukankah karena kemelaratan itu mereka akhirnya mau berusaha ? haha lihatlah dunia ini memang adil kawan. Banyakan para koruptor yang maling uang rakyat itu terlahir dari rakyat miskin nan melarat ? hahaha. Sedang aku, aku tidak berharap menjadi orang kaya raya yang bergelimang harta kelak, tidak, tidak itu bukanlah cita-citaku. Yang aku mau hanyalah hidup dengan tenang dan damai. Akan tetapi mencapai angan-angan yang sesederhana itu saja sulit sekali. Ayahku, korban dari pembunuhan ini, dialah penyebabnya, dia adalah orang yang paling aku benci di dunia ini. Meskipun terdapat sebagian DNA yang mengawali hidupku darinya, tentu saja tidak semuanya, dosenku pernah berkata di kelas biologi, bahwa yang mempengaruhi karatkeristik seseorang lebih banyak adalah faktor lingkungan, di bandingkan gen yang berasala dari interinsik.
Maka, tidak ada salahnya jika aku membuhun orang yang selama ini ku panggil ayah, haa, menjijikan juga ketika nama itu kusebut, dia, yang mengaku ayahku itu lebih sering terlihat sebagai monster, yang selalu mengancam kami-aku, ibu dan adik, dengan kata-kata kotornya. Ia dengan sombongnya berkata bahwa kami akan dicincang habis-habisan, ataupun di bacok dengan cerulit, bahkan di bunuh dengan pisau lampung koleksi kesayanganya. Bukan hanya itu saja di rumah neraka ini, kami dilarang menangis, apabila tangisan kami ketahuan oleh bajingan itu, maka bersiaplah kami akan kena damprat berupa bentakan dan tentu saja dengan paket ancaman pembunuhan yang aku sebutkan tadi, bisa dicincang, di bacok, ataupun di hunus dengan pisau kesayanganya. Meskipun selama ini belum pernah setan itu benar-benar merasuki tubuhnya, tetapi aku yakin suatu saat nanti ia akan melakukanya pada kami, dan ibuku yang berhati malaikat itu selalu berkata dalam tangisnya bahwa, jika itu terjadi -si bajingan setan itu membunuh kita, maka tidak ada yang dapat kita perbuat. Cuaahh, menjijikan memang kata-kata seperti itu, aku tentu saja akan meracuni si bajingan itu lebih dulu melalui kopi kesukaanya, ataupun makananya. Enak saja, aku tidak pernah sudi bila harus mati di tangan brengsek seperti dia.
Jadi, tidak ada salahnya pembunuhan ini terjadi juga, sudah aku rencanakan matang-matang, meskipun resikonya hukuman berlapis yakni pembunuhan berencana atau apalah itu, yang tertera di hukum KUHP, perduli amat. Yang jelas hidup di dalam sel ataupun di luar sel penjara bagiku sama saja, toh lebih baik aku membusuk di penjara dari pada harus tersiksa dalam rumah neraka itu. ini tak boleh, itu tak boleh. Kebahagiaan ? oh, apa itu ? semacam serangga beracunkah ? aku tidak pernah mengenal kebahagiaan. Meskipun selama ini aku bertopeng dengan keceriaan yang mampu membuat kehidupanku tersembunyi dari orang lain. Ah, mungkin mereka saja terlalu bodoh mempercayaiku, si penipu hahaha bagus juga sebutan itu, aku suka.
Kau percaya denga cerita-cerita sinetron jahanam yang membodohi bangsa kita ? percayakah bahwa kehidupan keji itu ada di keyataan ? terserah percaya atau tidak bagiku, sinetron pembodohan itu ada benarnya juga, contohnya saja, jika orang kaya yang sombongnya tak ketulungan, ataupun orang jahat yang jahatnya level dewa iblis haha, itu tentu saja ada, manusia, hatinya tidak pernah kita tahu seperti apa, sedalam-dalamnya laut dapat diselami tetapi sedalam-dalamnya hati manusia siapa yang tahu, hanya dia dan tuhanya yang tahu. Si brengsek itu, adalah orang yang tidak akan pernah bisa dipercayai, pembohong kelas kakap, sombong walaupun melarat, dan gengsinya, ohhh jangan di tanya si brengsek ini benar-benar nomor satu bila masalah gengsi padahal dia tidak mempunyai apa-apa. Hahahah teman ? semuanya palsu, di depan si brengsek saja mereka baik, di belakangnya, uhhh menggunting dalam lipatan, menusuk dari belakang, musuh dalam selimut, apa lagi istilah lain ? aku tidak tahu, yang jelas mereka semua, termasuk satu kampung tempat kami menetap membenci si brengsek ini. Anti sosial nomor wahid sejagad raya, mungkin karena gen sombongnya yang menjadi kangker di tubuhnya, seperti inilah hasilnya. Aku yakin ketika meninggal nanti sedikit sekali orang yang akan melayat ke rumah, kalaupun ada itu hanya sekedar menghindari dosa hahahah.
Baiklah, akan aku jelaskan bagaimana pembuhunan ini bermula, kronologi beserta detail yang harus dikatakan pada petugas, agar mereka tidak lagi meneriakan bentakan-benatakan yang menyebalkan, karena aku benar-benar sudah kenyang. Suatu hari, Seperti biasa, dirumah setan ini, si bajingan itu mengamuk lagi karena hal sepele, tidak punya uang untuk menyambung hidup besok, tentu saja, dia tidak bekerja hampir 12 tahun, sedangkan setiap hari, hanya dihabiskan untuk bermain judi hahahahah. Dia mengamuk, seperti orang yang kesetanan, semua barang dia rumah dia hancurkan, bahkan menu utama, yakni ancaman membunuh kami tak lupa ia teriakan. Dengan amarah yang bergemuruh ia menusuk-nusukan pisau tajam kesayanganya pada lemari dan dinding, dia bilang, bahwa tidak kuat, ingin membunuh kami, dan seperti biasa ibuku yang berhati malaikat itu menagis lagi, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa menangis adalah haram hukumnya, tapi ibuku adalah wanita yang begitu lelah menanggung penderitaan ini, maka dari itu ia menangis dengan hebatnya, juga adiku, padahal ia lelaki, aahh lemah sekali. Dan aku ? apa aku menangis ? tentu saja tidak, aku hanya diam, dan aku menggenggam pisau belati yang aku curi dari laci tempat koleksi pisau kesayangan si bajingan itu kemarin sore, aku sudah membulatkan tekad akan membunuh si brengesek itu hari ini juga. Tak perduli hari ini dia mengamuk, ataupun sedang baik, bahkan di saat ia tidur. Dan bagusnya ia sedang mengamuk hebat. Ketika ia sibuk mengumpat ibu yang menangis dan menghunus-hunuskan pisaunya ke udara, dari belakang, dengan gerakan spontan yang sangat cepat itu aku menusukan pisau pelati itu tepat pada punggungnya, bukan hanya sekali, karena aku yakin si brengsek ini tidak akan lumpuh hanya dengan sekali tusukan, maka aku menusukanya berkali-kali, tidak tahu berapa kali, yang kuingat saat itu adalah jeritanya yang melengking tajam dengan tindakan berusaha membalas, tetapi aku menendanganya, tepat di wajahnya, dan mulai menusukan belati yang berlumur darah itu tepat di dadanya, entah berapa kali, yang ku tahu saat itu, ibuku pingsan dan adiku yang menatapku dengan mulut terbuka, tampang bodoh.
Darah sialan itu menyembur ke baju, tangan, muka hingga lantai, semuanya merah, dan aku suka. Aku tersenyum tajam, melihat si korban yang berhasil kutusuk tergeletak tak berdaya, kurasa dia telah mati kehabisan darah, detik berikutnya aku terduduk seraya menatap adiku yang masih dengan tampang bodohnya, dan ia berkata lirih, “apa yang telah kau lakukan ka ?” gumanya hampir berbisik, “menyelesaikan masalah” sahutku riang. “kau akan dihukum, kau tahu itu ?” ujarnya seraya gemetar metapku yang berlumuran darah, “perduli amat dengan hukum konyol Negara setan ini, nah sekarang yang perlu kau lakukan adalah memanggil polisi, dan warga setempat untuk mengurusi mayat sialan ini, oia, jangan lupa bawa ibu ke kamar terlebih dahulu, dia pasti sangat kaget melihat putri polosnya ini membunuh ayah kandungnya sendiri hahaha” kataku, seraya bangkit menuju kamar mandi untuk membasuh darah yang menodai tubuhku.
Dan benar saja, adiku yang bodoh ini melakukan apa yang aku perintahkan, aku tidak akan lari, aku tahu apa yang telah aku lakukan, dan aku sangat senang. Hidup tenang akan dimulai detik ini juga. Tidak lama kemudian, rumah kami di kerumini warga yang ingin melihat si mayat berlumur darah yang tergeletak di ruang tamu, dan polisipun datang, menyeret aku, adiku dan ibuku. Seperti itu kira-kira, sampai akhirnya aku berada di ruang introgasi yang pengap ini.
***
“Kenapa ?” tanyaku dengan santai sesaat setelah menjelaskan kronologi pembuhunan itu. mata petugas yang tadinya garang, kini berubah menjadi sayu, dipelupuk matanya, kulihat ada genangan air yang akan tumpah, oh yang benar saja, lelaki garang yang bermata mau keluar ini sejam yang lalu memakiku dengan bentakan-bentakan yang memuakan, dan sekarang, setelah kujelaskan semuanya, dia malah menangis, dasar manusia, lemah. “kau kaget tidak ?” tanyaku seraya tersenyum senang. “Hidup ini sangat sulit pak, aku hanya membuatnya menjadi lebih mudah, hanya itu, apa aku salah ? tentu saja secara hukum aku salah, tapi menurut sudut pandang jiwaku, aku tidak bersalah. Hidup kadang tak adil untuku, walau aku tidak pernah menyesali apa yang telah di gariskan tuhan untuku, akan tetapi ini terlalu menyakitkan, mengapa orang lain mempunyai ayah yang baik ? mengapa aku tidak ? mengapa orang lain sangat menyayangi keluarga mereka ? tetapi aku tidak” ujarku, dengan tawa sumbang aku menatap matanya, ia berpaling “Daris… Daris” teriaknya, memanggil petugas yang bernama daris, kemudian si daris itu datang dengan setengah berlari, “siap pak” jawabnya cepat. “bawa gadis ini menuju sel” tegasnya, “baik pak” jawabnya, kemudian si daris itu menyeretku dengan kasar dan memapahku menuju sel penjara……


Dea Ajeng Pratiwi

Kamis, 03 Juli 2014