Minggu, 06 Juli 2014

Bapak Presiden Republik Indonesia


Kepada YTH
Bapak Presiden Republik Indonesia
Di
Tempat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
            Apa kabar bapak Presiden? semoga dalam keadaan baik-baik saja, terima kasih sebelumnya, karena tanpa adanya bapak, entah seperti apa negeri kita ini, sebagai pemimpin, tentunya bapak sudah bekerja keras mengurus nusantara yang luar biasa luasnya, dengan segala persoalan yang setiap hari bertamabah. Sebelumnya, perkenalan, saya adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri ini. Yang saya ingin tanyakan pada bapak secara pribadi, dari sekian banyak permasalahan yang membelenggu negeri kita ini pak, adalah mengenai efisiensi birokrasi pemerintahan kita pak. Pertanyaanya apakah birokarasi yang diterapkan dalam pemerintahan RI telah sesuai harapan? Jika sudah, mengapa laporan BPK RI (Badan Pengawas Keuangan RI) yang baru-baru ini dirilis menyebutkan bahwa kebocoran anggaran (korupsi, penyelewengan, ketidaktepatan penggunaan anggaran) mencapai angka Rp 13 Trilyun untuk semester II tahun 2013? Pertanyaan berikutnya: dengan kebocoran sebesar itu, berarti bukankah (birokrasi) pemerintahan belum efektif? Pemerintahan diciptakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran, bukan membocorkannya? Persoalan apakah yang masih membelit organisasi-birokrasi pemerintahan RI sehingga kebocoran anggaran masih demikian tingginya? Apakah kebocoran tersebut disebabkan moral para penyelenggara negara yang tidak amanah? Ataukah, karena aturan-aturan yang diterapkan tidak memiliki "daya paksa" terhadap para penyelenggara negara untuk berperilaku amanah, tertib dan disiplin serta jujur? Birokrasi pemerintah yang tidak efektif, apakah terletak di "wilayah moral" atau "di wilayah ketidak-efektifan aturan"?
            Kemunduran dalam moralitas bangsa kita semakin hari semakin jelas terlihat, mulai dari lapisan bawah hingga partai politik yang berlandasakan agama tak luput dari ranah korupsi. Bagaimana dengan aturan dan prosedur dalam birokrasi kita pak ? pada jaman orde baru, kita terkenal sekali dengan birokrasi uang, dimana untuk membuat kartu tanda penduduk saja, prosedur birokrasi yang harus dilewati sepanjang jalur anyer pantura, dengan sisipan uang sana sini kepada para petugas yang mengurusinya. Saat ini, seperti yang kita ketahui bersama gubernur Jakarta membuat terobosan dengan birokrasi menggunakan teknologi informasi, dimana prosedur yang panjang dan melelahkan itu dipersingkat dengan memanfaatkan jaringan komunikasi, guna memperkecil adanya penyelewengan birokrasi dari tinggkat bawah.
            Pak presiden, ketidakefektifan birokrasi pemerintah kita, bisa jadi karena budaya masyarakat kita yang suka berperilaku menyimpang berjamaah. Dosen mata kuliah sosiologi umum saya mengatakan bahwa "apa tanda bahwa korupsi yang berakar pada birokratisme di suatu negeri? Tandanya adalah, manakala semua cara dipandang halal (walaupun sesungguhnya tidak semuanya halal), sekalipun untuk tujuan yang baik." Manakala, ada perilaku "menerabas" dan menghalalkan segala cara (dan ujung-ujungnya dengan "umpan" berupa uang bagi penyelenggara negara), maka sistem yang baik seperti apapun dalam mengendalikan perilaku orang, maka sistem itu akan lumpuh. Hasilnya birokrasi tidak efetkif.
            Seperti yang kita ketahui bersama pak, tujuan utama pembentukan organisasi birokrasi sebenarnya adalah: (1) efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan orang-orang yang berhimpun dalam organisasi; (2) ketertiban dalam tata-kelakuan secara makro, sehingga masyarakat tidak mengalami kekacauan dan ketidakpastian dalam membina kehidupan bernegara. Bila pemerintahan tidak bisa menjadi birokrasi/organisasi yang menjamin terciptanya efisiensi, efektifitas, ketertiban yang baik dalam berorganisasi negara, maka sebenrnya birokrasi belum berjalan sesuai cita-cita para pembentuknya.
            Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga menjadi bahan pertimbangan untuk kebaikan bangsa kita, terima kasih.
Bogor, 29 April 2014

Dea Ajeng Pratiwi
Institut Pertanian Bogor





 





Pembunuh


“Katakan, apa motif sodari membunuh ayah kandung sodari ?” Tanya petugas kepolisian kepadaku dengan nada yang ditekan, membosankan. “sodari tidak mendengar ?” ulangnya dengan nada yang lebih tinggi. Aku menatapnya dengan perasaan muak, “itu takdir pak,” gumanku seraya menundukan kepala. “sodari jangan main-main dengan hukum, jika sodari tidak mengatakan dengan benar sodari akan dikenakan hukuman berlapis. Cepat katakan !!!” jerit petugas kepolisian itu, matanya garang, seakan mau keluar, sedangkan kumisnya yang lebat menutupi sebagian bibir atasnya, membuatnya semakin buruk dimataku. “Ya, itu adalah cita-cita terbesar dalam hidup saya pak, apa tidak boleh jika saya mempunyai cita-cita yang seperti itu pak ?” ungkapku dengan nada yang sesantai mungkin, malas sekali meladeni bentakan-bentakan dari petugas introgasi itu, semuanya sangat memuakan. Sekilas kulihat ekspresi petugas itu, saat ini matanya sudah keluar kukira. Kemudia pukulan hebat mendarat di meja coklat nan reot itu, melampiaskan amarah yang tak mungkin dilakukan kepada seorang tersangka wanita sepertiku.
***
Ya, akulah seorang pembunuh, mengerikan memang, tetapi bagiku tidak terlalu buruk, bukankah sudah banyak kasus-kasus pembunuhan, anak membunuh orang tuanya, orang tuanya membuhuh anaknya, oh ayolah, ini hal yang biasa di jaman serba canggih dengan teknologi dan lalala. Dan aku, hanyalah salah satu dari sekian juta orang yang terjerumus dalam kasus yang sama. Tunggu dulu, walaupun ini adalah hal yang biasa dalam kamus hidupku, akan tetapi aku mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukan tindakan yang paling durkaha ini. Terserah kau mau mmengatakan istilah yang lebih buruk dari pada durhaka aku tidak perduli, yang jelas impianku sudah tercapai. Apa kau mengira aku ini gila ? saiko ? psikopat ? hahaha yang benar saja, aku hanyalah wanita biasa, yang menginginkan kehidupan yang tenang. Hanya saja aku terlahir dalam keluarga yang takan pernah bisa tenang barang sedikitpun.
Aku tidak pernah menyesali terlahir dalam keluarga yang miskin harta, tentu saja tidak, malah aku bersyukur, bukankah orang-orang sukses itu yang telah mengisprirasi banyak orang itu terlahir dari golongan keluarga yang tidak mampu ? bukankah karena kemelaratan itu mereka akhirnya mau berusaha ? haha lihatlah dunia ini memang adil kawan. Banyakan para koruptor yang maling uang rakyat itu terlahir dari rakyat miskin nan melarat ? hahaha. Sedang aku, aku tidak berharap menjadi orang kaya raya yang bergelimang harta kelak, tidak, tidak itu bukanlah cita-citaku. Yang aku mau hanyalah hidup dengan tenang dan damai. Akan tetapi mencapai angan-angan yang sesederhana itu saja sulit sekali. Ayahku, korban dari pembunuhan ini, dialah penyebabnya, dia adalah orang yang paling aku benci di dunia ini. Meskipun terdapat sebagian DNA yang mengawali hidupku darinya, tentu saja tidak semuanya, dosenku pernah berkata di kelas biologi, bahwa yang mempengaruhi karatkeristik seseorang lebih banyak adalah faktor lingkungan, di bandingkan gen yang berasala dari interinsik.
Maka, tidak ada salahnya jika aku membuhun orang yang selama ini ku panggil ayah, haa, menjijikan juga ketika nama itu kusebut, dia, yang mengaku ayahku itu lebih sering terlihat sebagai monster, yang selalu mengancam kami-aku, ibu dan adik, dengan kata-kata kotornya. Ia dengan sombongnya berkata bahwa kami akan dicincang habis-habisan, ataupun di bacok dengan cerulit, bahkan di bunuh dengan pisau lampung koleksi kesayanganya. Bukan hanya itu saja di rumah neraka ini, kami dilarang menangis, apabila tangisan kami ketahuan oleh bajingan itu, maka bersiaplah kami akan kena damprat berupa bentakan dan tentu saja dengan paket ancaman pembunuhan yang aku sebutkan tadi, bisa dicincang, di bacok, ataupun di hunus dengan pisau kesayanganya. Meskipun selama ini belum pernah setan itu benar-benar merasuki tubuhnya, tetapi aku yakin suatu saat nanti ia akan melakukanya pada kami, dan ibuku yang berhati malaikat itu selalu berkata dalam tangisnya bahwa, jika itu terjadi -si bajingan setan itu membunuh kita, maka tidak ada yang dapat kita perbuat. Cuaahh, menjijikan memang kata-kata seperti itu, aku tentu saja akan meracuni si bajingan itu lebih dulu melalui kopi kesukaanya, ataupun makananya. Enak saja, aku tidak pernah sudi bila harus mati di tangan brengsek seperti dia.
Jadi, tidak ada salahnya pembunuhan ini terjadi juga, sudah aku rencanakan matang-matang, meskipun resikonya hukuman berlapis yakni pembunuhan berencana atau apalah itu, yang tertera di hukum KUHP, perduli amat. Yang jelas hidup di dalam sel ataupun di luar sel penjara bagiku sama saja, toh lebih baik aku membusuk di penjara dari pada harus tersiksa dalam rumah neraka itu. ini tak boleh, itu tak boleh. Kebahagiaan ? oh, apa itu ? semacam serangga beracunkah ? aku tidak pernah mengenal kebahagiaan. Meskipun selama ini aku bertopeng dengan keceriaan yang mampu membuat kehidupanku tersembunyi dari orang lain. Ah, mungkin mereka saja terlalu bodoh mempercayaiku, si penipu hahaha bagus juga sebutan itu, aku suka.
Kau percaya denga cerita-cerita sinetron jahanam yang membodohi bangsa kita ? percayakah bahwa kehidupan keji itu ada di keyataan ? terserah percaya atau tidak bagiku, sinetron pembodohan itu ada benarnya juga, contohnya saja, jika orang kaya yang sombongnya tak ketulungan, ataupun orang jahat yang jahatnya level dewa iblis haha, itu tentu saja ada, manusia, hatinya tidak pernah kita tahu seperti apa, sedalam-dalamnya laut dapat diselami tetapi sedalam-dalamnya hati manusia siapa yang tahu, hanya dia dan tuhanya yang tahu. Si brengsek itu, adalah orang yang tidak akan pernah bisa dipercayai, pembohong kelas kakap, sombong walaupun melarat, dan gengsinya, ohhh jangan di tanya si brengsek ini benar-benar nomor satu bila masalah gengsi padahal dia tidak mempunyai apa-apa. Hahahah teman ? semuanya palsu, di depan si brengsek saja mereka baik, di belakangnya, uhhh menggunting dalam lipatan, menusuk dari belakang, musuh dalam selimut, apa lagi istilah lain ? aku tidak tahu, yang jelas mereka semua, termasuk satu kampung tempat kami menetap membenci si brengsek ini. Anti sosial nomor wahid sejagad raya, mungkin karena gen sombongnya yang menjadi kangker di tubuhnya, seperti inilah hasilnya. Aku yakin ketika meninggal nanti sedikit sekali orang yang akan melayat ke rumah, kalaupun ada itu hanya sekedar menghindari dosa hahahah.
Baiklah, akan aku jelaskan bagaimana pembuhunan ini bermula, kronologi beserta detail yang harus dikatakan pada petugas, agar mereka tidak lagi meneriakan bentakan-benatakan yang menyebalkan, karena aku benar-benar sudah kenyang. Suatu hari, Seperti biasa, dirumah setan ini, si bajingan itu mengamuk lagi karena hal sepele, tidak punya uang untuk menyambung hidup besok, tentu saja, dia tidak bekerja hampir 12 tahun, sedangkan setiap hari, hanya dihabiskan untuk bermain judi hahahahah. Dia mengamuk, seperti orang yang kesetanan, semua barang dia rumah dia hancurkan, bahkan menu utama, yakni ancaman membunuh kami tak lupa ia teriakan. Dengan amarah yang bergemuruh ia menusuk-nusukan pisau tajam kesayanganya pada lemari dan dinding, dia bilang, bahwa tidak kuat, ingin membunuh kami, dan seperti biasa ibuku yang berhati malaikat itu menagis lagi, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa menangis adalah haram hukumnya, tapi ibuku adalah wanita yang begitu lelah menanggung penderitaan ini, maka dari itu ia menangis dengan hebatnya, juga adiku, padahal ia lelaki, aahh lemah sekali. Dan aku ? apa aku menangis ? tentu saja tidak, aku hanya diam, dan aku menggenggam pisau belati yang aku curi dari laci tempat koleksi pisau kesayangan si bajingan itu kemarin sore, aku sudah membulatkan tekad akan membunuh si brengesek itu hari ini juga. Tak perduli hari ini dia mengamuk, ataupun sedang baik, bahkan di saat ia tidur. Dan bagusnya ia sedang mengamuk hebat. Ketika ia sibuk mengumpat ibu yang menangis dan menghunus-hunuskan pisaunya ke udara, dari belakang, dengan gerakan spontan yang sangat cepat itu aku menusukan pisau pelati itu tepat pada punggungnya, bukan hanya sekali, karena aku yakin si brengsek ini tidak akan lumpuh hanya dengan sekali tusukan, maka aku menusukanya berkali-kali, tidak tahu berapa kali, yang kuingat saat itu adalah jeritanya yang melengking tajam dengan tindakan berusaha membalas, tetapi aku menendanganya, tepat di wajahnya, dan mulai menusukan belati yang berlumur darah itu tepat di dadanya, entah berapa kali, yang ku tahu saat itu, ibuku pingsan dan adiku yang menatapku dengan mulut terbuka, tampang bodoh.
Darah sialan itu menyembur ke baju, tangan, muka hingga lantai, semuanya merah, dan aku suka. Aku tersenyum tajam, melihat si korban yang berhasil kutusuk tergeletak tak berdaya, kurasa dia telah mati kehabisan darah, detik berikutnya aku terduduk seraya menatap adiku yang masih dengan tampang bodohnya, dan ia berkata lirih, “apa yang telah kau lakukan ka ?” gumanya hampir berbisik, “menyelesaikan masalah” sahutku riang. “kau akan dihukum, kau tahu itu ?” ujarnya seraya gemetar metapku yang berlumuran darah, “perduli amat dengan hukum konyol Negara setan ini, nah sekarang yang perlu kau lakukan adalah memanggil polisi, dan warga setempat untuk mengurusi mayat sialan ini, oia, jangan lupa bawa ibu ke kamar terlebih dahulu, dia pasti sangat kaget melihat putri polosnya ini membunuh ayah kandungnya sendiri hahaha” kataku, seraya bangkit menuju kamar mandi untuk membasuh darah yang menodai tubuhku.
Dan benar saja, adiku yang bodoh ini melakukan apa yang aku perintahkan, aku tidak akan lari, aku tahu apa yang telah aku lakukan, dan aku sangat senang. Hidup tenang akan dimulai detik ini juga. Tidak lama kemudian, rumah kami di kerumini warga yang ingin melihat si mayat berlumur darah yang tergeletak di ruang tamu, dan polisipun datang, menyeret aku, adiku dan ibuku. Seperti itu kira-kira, sampai akhirnya aku berada di ruang introgasi yang pengap ini.
***
“Kenapa ?” tanyaku dengan santai sesaat setelah menjelaskan kronologi pembuhunan itu. mata petugas yang tadinya garang, kini berubah menjadi sayu, dipelupuk matanya, kulihat ada genangan air yang akan tumpah, oh yang benar saja, lelaki garang yang bermata mau keluar ini sejam yang lalu memakiku dengan bentakan-bentakan yang memuakan, dan sekarang, setelah kujelaskan semuanya, dia malah menangis, dasar manusia, lemah. “kau kaget tidak ?” tanyaku seraya tersenyum senang. “Hidup ini sangat sulit pak, aku hanya membuatnya menjadi lebih mudah, hanya itu, apa aku salah ? tentu saja secara hukum aku salah, tapi menurut sudut pandang jiwaku, aku tidak bersalah. Hidup kadang tak adil untuku, walau aku tidak pernah menyesali apa yang telah di gariskan tuhan untuku, akan tetapi ini terlalu menyakitkan, mengapa orang lain mempunyai ayah yang baik ? mengapa aku tidak ? mengapa orang lain sangat menyayangi keluarga mereka ? tetapi aku tidak” ujarku, dengan tawa sumbang aku menatap matanya, ia berpaling “Daris… Daris” teriaknya, memanggil petugas yang bernama daris, kemudian si daris itu datang dengan setengah berlari, “siap pak” jawabnya cepat. “bawa gadis ini menuju sel” tegasnya, “baik pak” jawabnya, kemudian si daris itu menyeretku dengan kasar dan memapahku menuju sel penjara……


Dea Ajeng Pratiwi

Kamis, 03 Juli 2014



Selasa, 10 September 2013

Dunia Baru

Dunia baru, entah mengapa ketika orang-orang memasuki suatu lingkungan yang baru maka mereka akan menyebut itu semua sebagai 'dunia baru' . Meskipun apa yang mereka katakan itu benar karena, ketika kita memasuki lingkungan yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya akan membuat kita asing, sehingga itulah gunanya beradaptasi. Beradaptasi dengan lingkungan mungkin akan jauh lebih mudah jika kita bisa berdamai dengan keadaan, berdaamai dengan segala sesuatunya yang berhubungan dunia baru itu.

Begitupun dengan apa yang tengah aku rasakan saat ini. berharap keajaiban selama menjalani masa transisi dari siswa untuk menjadi mahasiswa. perbedaanya terlalu mencolok antara siswa dengan tambahan kata 'maha' didepanya. ketika menjadi siswa di bangku SMA aku selalu berpikir, ketika aku kuliah nanti akan menjadi suatu keadilan yang nyata karena kebanyakan mereka orang-orang yang di sebut sebagai intelektual itu teramat menyanyangi sikap individual, bekerja keras untuk menggapai masa depanya dengan menyabet gelar sarjana. aku merasa kehidupan kampus akan sangat keren dan hebat kerena, kita akan dididik menjadi orang dewasa. ketika di bangku sekolah kita hanya diajarkan ilmu-ilmu yang sudah ditemukan, sedangkan di bangku perguruan tinggi ini kita tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu yang sudah ada akan tetapi kita pun dituntut untuk lebih bersipak kritis ilmiah dan menemukan hal-hal baru. dan itu semua sangat keren bagiku.

Bukan hanya itu saja kehidupan mahasiswa pun sangat komplek, dengan tidak memakai seragam mahasiswa akan berpikir fasion itu sangat penting untuk menjaga penampilan mereka agar tetap 'kece'. penuh dengan hal-hal yang berbau pengetahuan, itulah awalnya aku mengira perkuliahan, tentunya aku tidak pernah berpikir bahwa kehidupan mahasiswa akan seperti di ftv-ftv itu, glamor, waktunya sangat banyak dan hal-ha yang bebas lainya. itu semua tentu saja hanya sebuah akting, haha.

Tetapi setelah aku sendiri yang merasakan kehidupan sebagai 'mahasiswa' agak sedikit bergeser dari apa yang kuharapkan selama ini. pada kenyataanya menjadi mahasiswa adalah menjadi seorang yang lebih disiplin waktu, disiplin dalam hal belajar dan segalanya, terlebih aku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal akan kehebatannya dalam berinovasi, ya Institut Pertanian Bogor inilah yang sekarang menjadi kampus tercintaku. kuakui pertama kali memasuki gerbangnya yang megah ini membuat hatiku bergetar betapa kerennya aku dapat berkuliah di IPB ini. tapi ada banyak hal yang menarik dari IPB dibanding dengan universitas lainya, yakni ketika tahun pertama semua mahasiswa baru diwajibkan untuk tinggal di asrama, ini sifatnya wajib bahkan ada ip asrama, mengerikan, meskipun rumainggal di asram berapa kilometer saja, aku wajib tinggal di asrama yang yaaa cukup, cukup sempit kamarnya untuk di huni oleh empat orang, cukup luas tamanya, cukup mengerikan jika aku menjemur pakaian karena terancam akan hilang, ya wajar saja karena ini asrama yang di huni oleh beribu-ribu orang sehingga bisa dikatakan wajar jika ada yang kehilanagn hati manusia siapa yang tahu, benarkan ? ya begitulah. aku belajar bagaimana menjadi mandiri, susahnya mencari masakan yang rasanya sama dengan rumah itu bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami di tambah dengan kelayakan tempat makan di luar area kampus sungguh mengerikan. tetapi itulah kenyataan. awalnya aku sangat menyesali keputusan ini semua, mengapa dan kenapa aku harus kuliah di sini dengan jurusaan peternakan pula, tapi akhirnya aku sadar bahwa inilah garis yang sudah di takdirkan tuhan untukku, ya lambat laun aku berdamai dengan keadaan, berdamai dengan IPB, berdamai dengan asrama, dan memulai untuk mencoba menikmati hari-hari di IPB. dan saat ini aku tengah menjalaninya. karena aku tahu kehidupan yang sebenarnya jauh lebih indah dari pada cerita-cerita indah yang tertulis di novel-novel bestseller hahaha.

Kamis, 31 Januari 2013

Yang Sengaja di Lupakan




            Kali ini aku benar-benar menangis, menangisi hal yang seharusnya tak boleh aku ingat-ingat lagi. Kau tahu mengapa ? karena orang yang kutangisi itu seharusnya sudah tenang di alam baka. Tapi, lihatlah aku malah menangis sseraya menepuk-nepuk dadaku, rasanya ssakit sekali. Aku merasa kehilangan. Selama ini aku sengaja, membiarkan kenangan bersama dengan pengaruhnya hilang, seperti menguap. Sudah hampir selama ini aku kuat, bisa tanpa petuah-petuah sederhana yang sangat berarti darinya, mirip ssemacam dengan vitamin yang harus rutin di konsumsi setiap hari, karena bila dilupakan akan membahayakan bagi kesehatan. Kau tahukan vitamin itu hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, namun walaupun sedikit harus ada, karena ia berperan sebagai regulator di dalam metabolisme sel tubuh kita.
            Bukankan vitamin itu sangat penting ? sama halnya dengan pengaruh yang ia berikan padaku, meskipun masih terdapat sisa-sisa yang sebagian kecil masih bisa kurasakan namun lambat laun kebutuhan akan petuah-petuah yang membangun jiwa itu semakin mendesak. Tidak pernah ada yang sama. Dan sekalipun itu motovator terbaik di dunia ini tidak akan pernah menggantikanya. Selamanya.
            Aku menangis lagi. Rasanya begitu nyata, sakit sekali. Aku butuh petuah-petuah sialan yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan dan berbagai tekanan, apalagi saat ini, di tengah-tengah segudang pelajaran dan juga ujian yaang akan kuhadapi, aku goyah. Mengingatnya membuatku tepental ke masa lalu, maasaa dimana orang itu masih ada, berceloteh ringan yang penuh dengan makna dan arti kehidupan. Mengartikan setiap nikmat-Nya, dan mensyukurinya. Bahkan sampai saat ini setipa kata yang berkesan darinya selalu terpattri dalam benakku.
            Di tengah tipu daya duniawi dan jahatnya hubungan sosial saat ini, aku semakin mundur, mentalku yang telah dibangun oleh iman dan juga ketakwaan belum sepenuhnya sempurna, ketika ia masih ada, petuah-petuahnyalah yang menjadi doping apabila iman dan takwaku mulai melemah. Ataupun ketika krisis kepercayaan dan jati diriku yang masih labil, perkaataan perkataan ssederhananyalah yang mampu membuatku percaya akan diriku senddiri, percaya bahwa aku mampu menghadapi dunia,percaya bahwa aku paasti beerhasil di masa yang akan datang. Selaalu percaya pada diri sendiri.
            Namun ketika ia pergi, aku telah mengikhlaskanya, mungkin begitulah takdir tuhan, orang baik tidak pernah berlama-lama tinggal di dunia yang penuh dengan tipu daya ini. Ia kembali kepangkuan yaang maha kuasa karena menderita penyakit gagal ginjal. Tidak lama, hanya sebentar saja, lalu pergi. Takdir tuhan siapa yang tahu ?
            Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa, pasti bisa tanpa harus selalu bergantung pada nasehat-nasehatnya. Sudah terlalu banyak pelajarn mengenai hidup yang ia berikan padaku. Aku kagum padanya, ia pekerja keras, sangat mencintai keluarganya. Tidak akan pernah ada yang sepertinya lagi. Sungguh. Aku merasa beruntung setidaknya hampir 2 tahun aku mengenalnya, meskipun singkat, akan tetapi itu semua sangat indah dan berharga. Sudah sampir selama ini, aku baru bisa mengenaangnya melalui sebuah tulisan yang mungkin masih sangat buruk.
            Meskipun ia sudah beristrirahat dengaan tenang, aku akan tetap membuktikan bahwa aku mampu, aku pasti bisa, lihat saja nanti. Mungkin saat ini satu-satunya cara untuk mengembalikan motivasiku adalah dengan mengenangnya seperti ini, ditengah-tengah tekanan dan seluruh beban yang sangat berat saat ini. “Aku pasti bisa, aku bisa pak, bapak tenang aja,  aku akan belajar dengan baik, makan dengan baik, berdoa dengan baik, dan aku pasti berhasil, aku sangat benci keluargaku sendiri, terutama ayahku, tapi, kau sselalu bilang, jangan pedulikan dia, urusi saja hidup dan massa depanmu untuk membuktikan bahwa apapun yang kau pilih itu dalah yang terbaik, aku akan selalu mengingat itu pak, akan selalu dan selamanya. Sungguh. Maapkan aku, jika aku menangis untukmu dan membuatku tersiksa, mulai dari sekarang aku akan bangkit, kau tahu, pelajarn kimai akan kutaklukan di UN nanti, lihat saja nantti pak, terimakasih banyak pak. Selamat jalan.....”

Rabu, 30 Januari 2013

Catatan Usaang




Ini benar-benar membosankan asalkan kau tahu, dua minggu tanpa berlibur, anggap saja begitu, aku tidak mempunyai selera yang cukup bagus untuk ini semua, sangat bodoh, hanya mengotak-atik laptop dan begitulah aktifitas yang entah mengapa selalu aku kerjakan, bahkan untuk membuat cerpen saja rasanya inspirasi itu hilang, aku yakin ia sedang berlibur bersama dengan semangat, mengerikan bukan, hidupku selama hampir dua minggu harus terkapar di dalam kamar yang luasnya tak mencapai 1km. Aku benci ini, meskipun begitu aku bersyukur laptop dan handphoneku masih mau menemaniku walau aku sendiri sangat bosan meihat mereka. Hanya sebatass tidur dan tidur, kawan membaca novel saja saat ini begitu menyeramkan, kau tahu kenapa ? mataku tak kuat lagi mentap lama-lama rangkaian kata itu, meskipun ceritanya seru bahkan lebih membahana badai dari pada bulu mata syahrini, namun apa boleh buat ? aku tak sanggup membacaya, buku-buku itu sama saja dengan obat tidur,  aku takut bila terlalu sering tidur, tentu saja itu dapat membuat berat badanku naik, entah berapa kilo, yang jelas liburan saatini adalah liburan terburuk yang pernah kurasakan. Kalau aku boleh jujur menekan tombol-tombol keyboard seperti ini membuatku migren sebelah. Ini semua kupaksakan, tadinya aku hanya ingin iseng saja, tapi pada akhirnya aku menceritakan semuanya, haha bukankah ini sangat konyol kawan ? ahaha lupakan !! aku tahu ini konyolmencoba mengawali chat dengan beberapa orang yang ku kenal namun sayang hasilnya nihil, ini membuatku sangat bosan sekali sekali sangat bosaaannnnnn !!! tolong ku berharap segera masuk sekolah dan ya sibuk lagi !! namun sodara-sodara apa yang terjadi ketika masuk sekolah ? ya tugas menumpuk disana disini dimana-mana, mengerikan !! belum lagi ujian nasional yang akan segera tiba, maksudnya ya begitu, aaahhhh beteeeeee !!!!! stresss berat ahahahhhhh

Catatan usang seperti apa ? seperti usangkah ? bukankah aku mencatat dan menyimpanya di sini ? bukankah ini canggih ? benarkan ? ya seharusnya begitu benar. Apa yang sedang aku pikirkan saat ini aku tidak tahu, sepertinya aku labil, tapi adiku lebih labil. Entah apa yang seharusnya aku tuliskan ? aku tidak tahu, sangat tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Hentikan saja dan lupakan saja. Terima kasih, tapi untuk apa ? untuk apa ? entahlah, benar-benar kacau.

Tanpa Judul


                Entah apa yang semestinya ku postkan pada blog yang miskin pengunjung ini, seandainya ada, paling hanya kebetulan lewat atau karena kesalahan pada saat mengklik sehingga masuklah kelaman lapuk ini, menyedihkan. Hai kawan, ijinkanlah aku untuk mencurahkan isi hatiku yang entah mengapa kahir-akhir ini sangat kacau, bahkan tak menentu. Mungkin karena terlalu stres menghadapi ujian, to, dan serangkaian hal-hal yang menyangkut masa depan, aku takut. Selama ini aku mencoba untuk tegar menghadapi semua ini, akan tetapi coba lihat bagaimana keadaanku saat ini? Sungguh mengerikan, terkadang aku malah membanci diriku sendiri, entah itu karena hal sepele ataupun yang lainya. Entah mengapa rasa benci terhadap diri sendiri itu kini muncul lagi setelah sekian lama aku berhasil menguasainya. Aku takut kebiasaan burukku terulang kembali, haanya karena hasil jepretan alat canggih abad 21 yang terkadang membuatku naaik pitam.
      Irois memang, hanya karena masalah sepele lalu dengan serta merta aku membenci diriku seperti 1 tahun yang lalu. Aku tahu ini akan berakibat buruk terhadap kesehatanku, tapi mau bagaimana lagi. Fobia akan badan yang tidak sempurna dan wajah yang terlalu bulat membuatku semakin melupakan nikmat dan karunia-Nya. Ini sangat keterlaluan, sudaah kucoba untuk melupakan semua kehawatiran itu namun apa daya, sepertinya imanku terlalu lemah. Mengerikan.
      Belum lagi serangkain tekanan yang tengah aku hadapi untuk UN. Seperti terdapat ratusan ton beban berat yang menempel di pundak dan d pikiranku. Aku tau, aku sudah membulatkan tekad, menggepalkan niat dan percaya diri sendiri. Namun akibat kelalaianku d massala lalu, tentu saja ada beberapa pelajaran yang sebelumnya belum aku kuasai d kelas sebelas dan sepuluh, yang akan menghambt pengerjaan soal-soal UN nanti. Aku sangat percaya diri, walau terkadang rasa percaya diri itu goyah, anamun tetap saja aku berusaha untuk jujur dalam setiap ujian yang kuhadapi selama aku sekolah.
            Walaupun kebanyakan sakit haati yang ku terima karena melihat teman-teman yang di kelas kemampuanya biasa-biasa saja bahkan di bawahku, namun ketika ujian nilai mereka di atasku. Sunggu sakit. Akan tetapi aku selalu merasa bangga terhadap nilai-nilaiku selama ini. Karena walaupun jelek itu adalah hasil jerih payahku sendiri. Aku juga benci tes IQ. Tes itu sangat memuakan bagiku. Entah mengapa tes yang katanya mampu mengukur seberapa cerdas otak kita. Pertaa kali aku tes IQ hasilnya sangat mengecewakan, d bawah seraatus, walauupun tergolong rata-rata, tetap saja itu sangat mengecewakan.aku merassa tidak terlalu bodoh, setidaknya dari SD sampai SMA saaat ini aku selalu mendapat peringkat 5 besar. Namun lihat IQ-ku begitu mengecewakan, sedangkan adiku yang pemalas, tidak pernah belajar tapi IQ-nya 122, sangat menyebalkan bukan ? ini aneh. Aku yakin ada yang salah dalam tes IQ itu. Sungguh aku benci tess IQ.
      Bukan hanya itu saja, aku jugaa tidak terlalu suka pelajaran fisika, bukan, bukan karena isinya rumus semua, akan tetapi metode pembelajaranya yang benar-benar buruk. Hampir dua tahun aku bolot fisika, sebenarnya tidak terlalu bolot akan tetapi karena gurunya, yang hampir di kelas satu dan dua itu-itu saja dan jaran masuk kelas apa lagi memberikan materi. Ini benar-benar merugikan. Karena imbasnya saat ini, ketika kelas tigaa yang akan menghadapi UN.
      Kalo boleh aku berpendapat UN di negara tercinta ini benar-benar palsu, lulusan palsu, nilai rapot palssu, semuanya serba palsu. Aku akui itu. Aku tidaak bermaksud sombong karena aku juga termasuk bagian dari yang palsu itu, sedikit. Sistem negara ini benar-benar kacau. Cita-citaku ingin sekali menjadi pengamat politik, namun lihat aku malah mengambil jurusan IPA, tammatlaah cita-cita itu, tergantikan oleh cita-citaku yang baru, menjadi seorang petani. Lihat saja, aku juga pasti akan berkontributor untu negara ini dalam satu bidang. Yaitu pertanian.

Minggu, 06 Januari 2013

Bahagia dan Cinta



Sekarang atau kapanpun itu pasti akan berubah, kau tau tidak, apa saja hal-hal yang membuatku bahagia ? orang bilang bahagia itu sederhana, entah sesederhana apa ? dan seperti apa yang tengah mereka pikirkan mengenai definisi sederhana yang menurutku berbeda. Ada banyak hal yang dapat membuatku bahagia, seperti makan enak, ataupun nilai ulangan yang bagus, setidaknya di atas kkm, dan masih banyak lagi, namun yang paling membahgiakann adalah ketika aku menyelesaikan panggilan alam dengan tenang dan damai, rasanya lega sekali, seperti dunia ini bertambah luas. Namun kebanyakan mungkin bahagia di mata remaja ssaat ini adalah kehidupan cinta, aku tidak terlalu mengerti menenai cinta dan tektek bengek yang menyertainya, mengapa ? karena hal seperti itu belum sempat aku pikirkan, pernah aku pikirkan akan tetapi itu sangat menggangu dalam proses pembelajaran jujur saja, ketika merasakan indahnya jatuh cinta-jujur saja aku juga normal meskipun tidak terlalu mengerti-maka kau akan melupakan segalanya, aku yakin fokusmu hanya terrtuju pada seseorang yakni si dia, dan secara perlahan pelajaran, peer bahkan kewajibanmu-mungkin-dalam ibadahpun sedikit melonggar, mungkin sebagian orang yang sangat menikmati indahnya jatuh cinta yang melupakan segalanya, setidaknya kau akan sedikit menggesser konsentrasimu yang tadinya belajar kerass dan bla bla, hanya karena ada orang lain yang sangat menaarik perhatianmu maka kau langsung menggeser tempat itu untuknya, sehingga secara tidak langsung kau aakan teralihkan, selalu tergesa-gesa ingin bertemu denganya, ataupun lebih ssering memperhatikan penampilanmu, benarkan ?
Ah jujur saja kawan itu sangat manusiawi, dan tentunya karena kita sedang masa pubertas itu wajar-wajar saja. Yang tidak wajar itu apabila kita terlalu fokus pada orang itu, ya tentunya akan merusak keseimbangan aktifitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagiku itu sangat tiddak baik, sama halnya virus ataupun bakteri yang sangat merugikan, aku tidak terlalu suka jatuh cinta, kalaupun mau aku hanya akan menjadiakannya ssebagai motivasi untuk menjadi yang lebih baik lagi, ya begitu saja. Aku bukan termasuk golongan anak gaul ataupun populer di sekolah, hanya anak biasa tidak terlalu istimewa, tidak menonjol dalam bidang non akademik, sedikit baik dalam bidang akademik, dan kebanyakan ceroboh dalam setiap hal yang kulakukan, sedikit buruk memang, hanya saja lebih baik dari pada tidak mencobanya, setidaknya kita mempunyai penngalaman dalam hal apapun terkecuali dalam hal yang negatif.