Tampilkan postingan dengan label Aku Berharap Ayahku Mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Berharap Ayahku Mati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

Aku Berharap Ayahku Mati


“Aku berharap Ayahku mati” ujarku dengan nada yang datar dan dingin. Tatapanku lurus menerawang, “aku juga akan bahagia jika aku menjadi seorang yatim” tambahku dengan senyum sinis, “a pa yang menjadi dasar engkau mengatakan hal itu nak?” tanya wanita dihadapanku dengan hati-hati, “hatiku, rasaku, jiwaku terhadapnya telah mati” sahutku dengan datar, entahlah apa sekarang aku sudah jadi anak durhaka ? apa aku sudah membuat dosa yang sangat besar ? apa aku akan masuk neraka ? aku sungguh tak perduli, biarlah aku di cap oleh seluruh warga dunia, bahkan para malaikat sedikitpun aku tak perduli, wanita dihadapanku kini tercengang menatapku penuh dengan tanda tanya. “apa yang kau-“ kalimatanya segera kupotong “aku tidak perduli, apa pun yang akan kau  katakan padaku, aku tidak butuh nasihatmu, tentang orang tua, dalilnya, ataupun segala yang berhubungan dengan orang tua, aku sama sekali tidak perduli” tuturku dengan menatapnya tajam. “aku hanya ingin kau mendengarkan apa yang akan kuceritakan padamu, tanpa harus memberi komentar bahkan solusi untukku” jelasku dengan sinis, sungguh aku hanya ingin bercerita saja aku tidak membutuhkan solusi atau apalah itu, aku hanya tidak ingin kehilangan gravitasi kehidupanku dan tertarik oleh black hole. Biarpun aku dianggap aneh bahkan mungkin dianggap tak wajar oleh teman-temanku, aku tak perduli. Yang terpenting adalah aku masih waras dan aku masih bisa menjalani hidupku, hanya itu.
                Wanita yang berada di hadapanku adalah guru bp, entah bagaimana guru ini mencurigaiku sejak pertama masuk SMA, bu Ningrum namanya, orangnya manis, mempunyai perawakan tinggi pepat, wajahnya putih bersih, mungkin menggunakan kosmetik pemutih yang tidak berkwalitas, terbukti terdapat bercak hitam diantara pipinya yang cabi. Mudah sekali dikenali karena saat ini kosmetik tersebut populer dikalangan ibu-ibu, walaupun resikonya berbahaya. Ia memakai kaca mata tebal, dan berkerudung. Hampir enam bulan ia mencoba mendekatiku, dan sekarang ia berhasil membawaku masuk kerruangan yang di anggap “keramat” oleh seluruh siswa. Ia menanyakan mengapa aku tak pernah bergabung dengan teman-teman yang lainnya, apa aku pemalu ? apa aku punya musuh ? atau masalah keluarga ? pertanyaan konyol yang membuat kupingku berdenging adalah pertanyaan terakhir, lalu aku mengakui bahwa memang saat ini itulah masalahku, ahhkk bukan saat ini saja, akan tetapi selama hidupku ini. ”baiklah nak, ibu akan dengar semua keluhanmu, apapun itu ibu siap mendengarkan, katakanlah apa yang menjadi masalahmu, ibu tidak akan berkomentar apapun sebelum engkau selesai” ujarnya dengan ekspresi yang meyakinkan “baiklah, memang itu yang yang aku harapkan” tuturku sebelum kuawali ceritahidupku,aku mencoba tegar, tuk berbagi demi keseimbangan gravitasi hidupku, kuhembuskan napas yang panjang dan sesak ini. “entahlah , harus dari mana memulainya, yang jelas aku membenci keluargaku, terutama ayahku, sebenarnya untuk memanggilnya dengan sebutan ayah saja, sudah membuatku hancur, dan itu sangatlah menyulitkan, aku berharap ia mati dan pergi dari kehidupan dunia ini, karena aku tak menginginkanya, aku juga berharap tak pernah dilahirkan dalam keluarga ini, namun waktu dan takdir tak dapat di ubah, segalanya memang harus seperti ini.”
                “sungguh aku membenci ayahku, sampai matipun aku akan tetap membencinya, aku tahu semua orang akan menganggapku sebagai anak paling durhaka, dan mungkin aku  di cap masuk neraka. Semua itu hanya akan menjadi angin lalu, mereka boleh saja mencaci, memaki, dan mengumpatku, tetapi mereka tak tahu bagaimana dengan perasaanku, hatiku, dan juga hidupku, mereka tak pernahberpikir ke arah itu, aku merasa pantas berbicara seperti ini, pantas sekali, karena aku merasa lelah terus menerus bersandiwara di hadapan orang lain, ingin sekali aku menunjukan siapa diriku sebenarnya, karena aku tidak mungkin selamanya hidup dalam kemunafikan.”
                “harapanku telah hancur, tak ada yang tersisa untuk orang yang kupanggil ayah, aku menganggap ia sudah mati, dan akan semakin indah bila itu sampai terjadi. Entah sampai kapan ibuku bertahan dalam rumah itu, aku selalu mendorongnya untuk pergi ke meja hijau, aku tak ingin melihatnya terus menerus terluka, seandainya luka itu kasat mata, ku rasa tumpukan lukanya sudah membusuk, akan tetapi ibu selalu membela ayah, ibu selalu mengatakan bahwa baik buruknya dia tetaplah ayahmu, aku benci mendengarnya, aku sangat benci” ujarku panjang lebar, aku mulai terisak, tangisku buyar seketika, garis pertahananku jebol seketika, kuusap kedua pipiku, bersiap melanjutkan kisah ini, “baik aku dan adiku, sama-sama terluka, teraniaya, kami tidak menderita luka fisik akan tetapi batik kami !!!, yang aku takutkan sekarang adalah adiku, bagaimana jika ia berumah tangga kelak ? bagaimana jika ia menuruti sifat ayahku ? bagaimana ?”
                “Ayahku adalah seorang pengaguran, sebenarnya kami membuka klinik dirumah, sayangnya klinik kami terkadang sepi. Sedang Ayah hobi memancing dan berjudi, yang membuat keluarga kami terlilit banyak hutang. Aku lelah terus menerus belajar prihatin, bersabar. Melihat tingkah ayah yang santai dan lambat dalam merespon masalah kami, membuatku muak melihanya.”
                “Hal yang paling aneh adalah ayahku selalu memaki, mencaci, mengumpat bahkan tak jarang ancaman akan membunuh kami terlontar dari mulutnya yang kotor. Ayah paling tidak suka bila melihat kamimenangis, padahal yang menyebabkan kami menangis ia sendiri. Ia begitu sombong dengan kemampuan yang ia miliki, seakan tak ada seorangpun di dunia ini yang lebih hebat darinya. Seringkali jika kami tak tahu apakah esok akan makan atau tidak, ia berani mengumpat tuhannya sendiri. Banyak sekali musuh disekitarnya, pantas saja ia di benci oleh banyak orang, aku sendiri sebagai anaknya berharap ia lenyap.”
                “pernah ibu bercerita tentang masa lalu ayah, ibu bilang ayah tumbuh dalam balutan kekerasan dan kedisiplinan yang tinggi, kakek adalah orang yang paling ayah takuti, bahkan ayah pernah dikejar-kejar kakek dengan pedang tajam, hari-hari ayah dilalui dengan siksaan, keluarganya tidak harmonis.”
                “Namun apa pantas sekarang ia melampiaskan dendamnya pada kami ? apa dia tolol ? bukankah ia tersakiti dengan perlakuan kakek terhadapnya ? ia lupa bahwa aku, adiku, dan ibuku membencinya lebih dari apapun! Dasar bodoh ! kenapa aku harus mempunyai ayah seperti dia !!! aku berharap tuhan mendengarkan segala doaku. Aku tidak akan pernah menyesal, karena bagiku ia bagai benalu dalam hidupku.”
                “Aku selalu dikekang olehnya, ia terlalu posesif, sayangnya aku selalu terkena semburan caci maki, bukannya petuah.”
                “Aku ingin sekali seperti orang lain, sosok ayah yang selalu diidolakan, ayah yang penyayang, ayah yang membimbing anak-anaknya, ayah yang-“ paparku panjang lebar serapa mengusap ke dua pipiku. “Aku seperti orang bodoh yang berjalan di atas bara api, walaupun aku tahu kakiku terbakar, tetap saja aku melangkah diatasnya. Entah bagaimana, masalah ini telah menghilangkan sebagian hidupku” jelasku seraya membuang muka, mataku pedih, rasanya air mataku hanya terbuang sia-sia.
                “Aku rasa semuanya terbuka jelas di mata ibu akan aku yang sebenarnya, terimakasih banyak” akupun berlalu dengan santainya. Atmosfer di ruangan ini begitu sesak, membuatku sulit bernapas. Kulangkahkan kaki ini secara perlahan menuju pintu gerbang, adasedikit kelegaan yang kurasakan, aku menengadah ke atas langit yang mulai meredup digantikan sinar rembulan.
                “teetttttttttttt” ponselku bergetar lembut, menyadarkanku dari lamunan kosong, kulihat pesan singkat dari adiku, “ka pulang dirumah sedang gawat” aku hanya menyeriangai tajam.
                Rumahku tampak ramai dari kejauhan, dan banyak sekali orang yang berkerumun di depan mulut pintu, tanpa ambil pusing aku melanjutkan langkah yang tinggal 2 meter lagidari tempatku berpijak. Mataku menatap nanar bendera kuning di depan pagar, “va, sabar yaa, ini semua cobaan ya,” ujar salah seorang di dekatku. Aku terpaku, siapa ? siapa ? tiba-tiba adiku berlari menghamprir dengan mata yang sembab, “Ka-ka,….” Sapa adiku dengan terbata, “siapa ? siap ? ibu ?” tanyaku penasaran, cengkraman tanganku semakin kuat pada lengan adikku, “bu-bukan ka, tapi ayah ka, ayah kaaa” sahutnya seraya tertunduk menahan tangisnya. Seketika rasa penasaranku padam, bahkan mataku kering tak berair, bukankah ini yang aku inginka ? inkah ? melihatnya terbaring kaku tak bernyawa ?. pertanyaan itu terus berputar didalam kepalaku. “kaka, kenapa tidak menangis ? kaka gak sedih ya ?” tanya adiku polos, aku menatapnya datar lalu tersenyum masam. “apa penyebabnya ?” tanyaku sinis, “katanya terkena serangan jantung kaa,” guman adikku pelan, lebih pada diri sendiri. Dengan santai aku beranjak masuk ke dalam rumah, “sabar ya ka” ujar pamanku lirih, aku terdiam, tetap melanjutkan langkahku, sekilas kulihat tubuh itu terbaring kaku, dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya, “apa kaka mau melihat ayah untuk yang terakhir kalinya ?” tanya nenekku dengan suara yang parau, aku tak bergeming . Aku melanjutkan langkaku menuju kamar,tanpa sadar aku tersenyum kecil.
                Pemakaman ayah berjalan dengan lancar, seluruh keluarga besar datang untuk memberikan penghormatan terakhir, aku tetap tak bergeming, bahkan aku masih memasang tampang datar. “kenapa kaka tidak menagis ? apa kaka tidak bersedih untuk ayah ?” tanya bibiku tajam, “apa harus setiap kesedihan diperlihatkan dengan cara menangis ?” tanyaku sinis. Sebelum bibiku menjawab, aku telah melangkahkan kakiku.
                Aku berjalan, menatap indahnya langit malam, di rumah sedang diadakan tahlilan untuk almarhum ayahku. Inilah yang aku harapkan, tuhan mendengarnya, semakin membuatku yakin bahwa setiap perkataan adalah doa, yang akan terkabul, entah sekarang, esok, ataupun nanti.

Bogor, 11 April 2012

Dea  Ajeng  Pratiwi